Emansipasi, keadilan, pemerataan hak terhadap wanita. Sering sekali merupakan isu yang dilontarkan oleh banyak wanita, mulai dari artis hingga wakil rakyat.


Yang perlu kita ketahui adalah esensi sebenarnya dari emansipasi wanita ini apa. Esensi dari perjuangan Kartini terhadap wanita-wanita di Indonesia.


Seringkali kita mendengar banyak wanita, mulai dari anak remaja hingga ibu-ibu merasa haknya sebagai wanita belum terpenuhi, derajatnya terasa belum setaraf dengan laki-laki. Sehingga tidak jarang, mereka melakukan banyak protes terhadap hal tersebut, merasa tidak diperbolehkan untuk memperoleh hak yang sama dalam bekerja, beraspirasi, hingga memberikan pendapat. Sehingga tidak jarang isu seperti ini sering kita dapatkan.


Perjuangan pemerataan derajat dilakukan oleh pahlawan nasional kita Ibu Kartini karena pada masanya perempuan cenderung dianggap sebagai “peliharaan”, hanya untuk ditinggal dirumah, melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa diberikan kesempatan untuk berkembang dalam hal pendidikan dan wawasan. Sehingga esensi dari perjuangan kala itu adalah untuk memperoleh hak dalam belajar dan berusaha.


Saat ini hal tersebut sudah ada, namun masih saja banyak wanita yang merasa belum memperolehnya. Sebenarnya hal ini terjadi karena kurangnya pengertian oleh banyak wanita esensi perjuangan sebenarnya kala itu dan dikaitkan dengan beberapa sifat egoisme.


Mereka sering sekali protes hal-hal seperti kegiatan mengurus keluarga, hingga dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan. Mereka biasa mengeluh capek sehingga tidak mau menyusui anaknya, atau merasa peluang kerjanya di beberapa bidang tidak terbuka. Padahal untuk mengurus keluarga memang sudah kodrat seorang wanita, merekalah yang harus menyusui, dan mendidik anak, sedangkan suami hanyalah sebagai pendukung tugas utama tersebut. Sedangkan untuk pekerjaan, memang ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh wanita, karena faktor fisiknya yang lebih lemah. Namun sebagian besar pekerjaan dewasa ini tidak ada lagi perbedaan dalam menerima wanita untuk bekerja, mulai dari perkantoran, bank, hingga wakil rakyat. Bahkan sebenarnya cenderung wanita lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.


Kembali menjadi pertanyaan adalah sampai dimana emansipasi yang diinginkan oleh wanita-wanita yang selalu memberikan isu dan wacana untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Karena, hal ini memberikan perasaan dan kondisi ketidakadilan pada wanita-wanita yang menerima informasi tersebut. Kondisi yang terjadi selanjutnya tentu dapat ditebak, yaitu terjadinya konflik entah itu pada diri sendiri maupun pada orang lain yang mengarah ke rasa ketidaknyamanan hingga perselisihan.


Harus kita garisbawahi tentang makna emansipasi wanita sebenarnya, jangan sampai timbul wanita yang sudah tidak mau mengakui kodratnya sebagai wanita untuk hamil, melahirkan, menyusui, hingga mendidik. Karena emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini adalah pemerataan hak untuk memperoleh perlakuan serta kemampuan bekerja yang sama dan setara dengan pria, bukan perubahan kodrat seorang perempuan.