Sejak dulu bangsa kita merupakan bangsa yang selalu menginginkan perdamaian. Sehingga sewaktu perang dunia dahulu, bangsa kita memilih bergabung di gerakan Non-Blok, dengan tidak memihak blok barat maupun blok timur, hal ini karena sejatinya kita bangsa yang cinta damai.
Untuk itulah dibuat suatu perserikatan oleh bangsa-bangsa di dunia dalam skala internasional yang berfungsi untuk menciptakan perdamaian di seluruh dunia. Dimana organisasi ini selalu ingin menjadi penengah dan standar dalam segala masalah kemanusiaan yang terjadi di seluruh dunia. Dengan negara-negara besar sebagai pendirinya dan hampir seluruh negara di dunia adalah anggotanya.
Namun kita perlu mengetahui, sisi lain dari organisasi bertaraf internasional ini. Dengan hampir bergabungnya seluruh negara didunia ini sebagai anggotanya, otomatis musuh yang ingin dihadapinya berkurang, bahkan menjadi tidak ada sama sekali, hal ini membuat aksi yang dulu diidam-idamkan oleh negara-negara pendirinya menjadi buyar. Sehingga seringkali konflik internal yang terjadi di suatu negara justru diintervensi oleh organisasi ini, sehingga hak kedaulatan suatu negara untuk memerintah dan mengamankan negaranya sendiri tidak dihargai, namun hal tersebut dilakukan dengan alasan menjaga perdamaian dunia, sehingga dunia memperbolehkan aksi tersebut.
Sebenarnya bukan hal tersebut yang memprihatinkan. Yang lebih memprihatinkan adalah sikap organisasi ini sebagai penjaga perdamaian dunia yang ternyata tidak berguna disaat-saat memang diperlukan. Misalnya pada kasus di Irak, dimana Amerika Serikat sebagai negara adikuasa mampu dengan enaknya menggulingkan pemerintahan yang ada saat itu, menghabisi nyawa penduduk dan tentara Irak tanpa menghargai hak asasi mereka, serta mengambil seluruh kekayaan alamnya hingga saat ini.
Mengapa hal ini bisa terjadi?? tentunya sangat mudah jawabannya, karena Amerika Serikat sebagai negara yang melakukan agresi juga merupakan anggota kehormatan di organisasi internasional ini yang memiliki hak veto. Kondisi ini bila ingin diumpamakan berupa sebuah permainan, Amerika Serikat bertindak sebagai pemain sekaligus wasitnya. Suatu kondisi yang sangat menguntungkan dan tidak dapat diganggu gugat maupun diintervensi.
Hal ini menunjukkan keadaan dimana adanya perserikatan bertaraf internasional ini tidak lebih hanya sebagai topeng, agar negara-negara yang berkuasa dapat menjajah negara lainnya atas nama perdamaian. Karena seperti pada olahraga tinju, dimana seorang petinju tanpa sparring partner maupun lawan tanding, tidak akan merasakan puas, entah karena tidak mampu mengukur kekuatannya, atau hanya sebatas unjuk kekuatan dan kekuasaan. Dan berdoalah, jangan sampai, sparring partner yang dicari nanti adalah Indonesia.
